Kamis, 03 November 2016

MAKALAH TEATER LENONG

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
                   Teater lenong termasuk seni pertunjukan rakyat, yang diwariskan bukan saja secara lisan tetapi juga melalui gerak-gerik isyarat. Sudah terkenal di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) yang dihuni oleh orang Betawi sebagai penduduk asli. Tetapi gesekan khong ayan dan tehian dari gambang kromong, yang pertunjukan beberapa dasawarsa lalu mampu memanggil penduduk menembus kegelapan malam untuk menikmati pertunjukan teater lenong semalam suntuk. Kini tidak terasa lagi, bahkan orang Betawinya pun sudah tergusur ke pinggir kota. Mereka kini lebih tertaik pada orkes, dangdut, daripada pertunjukan teater lenong, sehingga teater lenong hampir dilupakan orang.
Pembicaraan mengenai teater lenong. Teater ini terbagi atas empat bagian yaitu, tekhnik pementasan, bentuk pementasan, tata pentas, dan organisasi perkumpulan teater lenong.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Lenong adalah kesenian teater tradisional atau sandiwara rakyat Betawi yang dibawakan dalam dialek Betawi yang berasal dari Jakarta, Indonesia.

B.     Sejarah
Lenong merupakan teater rakyat / tradisional. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong. Konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya. Pertunjukan lenong dibagi atas tiga bagian yaitu sebagai pembukaan dimainkan lagu-lagu berirama Mars secara instrumental untuk mengundang penonton datang. Setelah itu dimainkan lagu-lagu hiburan. Terakhir lakon. Pada awal perkembangannya lenong memainkan cerita-cerita kerajaan, baru kemudian memainkan cerita kehidupan sehari-hari.
            Lenong berkembang sejak akhir abad 19 atau awal abad 20. Seni teater mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi seni yang sama seperti "komedi bangsawan" dan "teater opera" yang sudah ada pada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyatakan bahwa berevolusi dari proses teater lenong musik Gambang Kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak 1920-an.
Pertunjukan lenong biasanya untuk memeriahkan pesta. Dahulu lenong sering ngamen. Pertunjukan ngamen ini dilakukan bukan untuk memeriahkan pesta tetapi untuk memperoleh uang. Penonton yang menyaksikan pertunjukan akan diminta uang sukarela. 
Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Selanjutnya, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.
Setelah sempat mengalami masa sulit, pada tahun 1970-an, kesenian lenong yang dimodifikasi mulai dipertunjukkan secara rutin di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta.Selain menggunakan unsur teater modern dalam plot dan tata panggungnya, lenong yang direvitalisasi tersebut menjadi berdurasi dua atau tiga jam dan tidak lagi semalam suntuk.
Selanjutnya, lenong juga menjadi populer lewat pertunjukan melalui televisi, yaitu yang ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia mulai tahun 1970-an.

C.    Jenis-Jenis Lenong
Pada hakikatnya lenong dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1.      Lenong Preman
Lenong Preman diasumsikan cerita berdasarkan sudut pandang masyarakat menengah ke bawah zaman dahulu.
Gaya bahasa yang digunakan cenderung kasar ( bahasa sehari-hari ), seperti elu, gue, bangsat, dan lain sebagainya. Ciri lain lenong preman adalah penggunaan huruf vocal ‘a’ di setiap akhir kata, misal ; ‘ngapa’, ‘mana’, ‘siapa’, dengan pengucapan suku kata terakhir dipanjangkan. Lenong preman masyarakat pinggiran tidak mengenal teks tertulis. Sutradara hanya sekedar menyampaikan sinopsis secara lisan, dan menentukan aktor dan aktris yang akan memainkan tokoh-tokoh dalam cerita. Selebihnya, aktor dan aktris, utama atau pendukung, mengandalkan improvisasi. Yang paling khas dari lenong preman adalah selalu ada perkelahian, karena cerita yang dimainkan tentang jawara,-jagoan kampung dalam sistem kekuasaan masyarakat Betawi- versus centeng,-tukang kepruk yang bekerja untuk tuan tanah.
Biasanya pertunjukan ditampilkan di tempat dimana masyarakat berkumpul. Panggung pertunjukan berupa ‘panggung arena’, yang hanya beralaskan rumput/tikar, dengan penerangan obor/lampu minyak dan dikelilingi oleh penontonyang duduk berkumpul menyerupai tapal kuda. Busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. 
Contoh Lenong Preman : Cerita Si Pitung, Abang Jampang, Wak Item, dan lain-lain.
Lenong preman Betawi tidak bisa diterima masyarakat Betawi Tengah. Penolakan disebabkan beberapa hal. Pertama, lenong preman pinggiran relatif sekulerm dengan kehidupan panjak-nya yang melanggar norma. Panjak adalah pekerja lenong yang terdiri dari aktor, aktris, dan pemain music gambang kromong. Kedua, penggunaan bahasa Betawi rendahan. Orang Betawi tengah memandang sinis bahasa Betawi rendahan yang menurut mereka tak santun. Ketiga, adegan dalam lenong preman pinggiran cenderung mengeksploitasi kekerasan dan tidak mengajarkan etika.
Namun dalam perkembangannya ada proses rekacipta terhadap lenong preman pinggiran. Lenong preman pinggiran ditampilkan dengan dialek Betawi tengah yang lebih santun, serta disesaki muatan relijius di setiap drip,-bagian dari babak dalam lenong. Misalnya, penggunaan kata ‘assalamualikum’ dan tradisi cium tangan dengan orang yang lebih tua. Bahasa yang digunakan juga relatif santun, dengan huruf vocal ‘e’ di akhir kata, dan kental pengaruh Arab. Misalnya, ‘ane’, ‘ente’, ‘kite’, untuk menyebut saya, kamu, dan kita.

2.      Lenong Denes (dinas)
Adalah pertunjukan teater dimana cerita berisi mengenai dinamika pemerintah yang saat itu dipegang oleh penjajah. Namun demikian, cerita yang diusung tetap mengenai sisi perlawanan masyarakat terjajah. Gaya bahasa yang digunakan cenderung halus, seperti saya-anda, tuan, dan lain-lain.
Lenong Denes diasumsikan berdasarkan sudut pandang golongan menengah atas. Aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, Contoh lenong denes : Cerita 1001 malam, dan lain-lain.

D.    Alat musik pengiring Lenong
Sejak awal keberadaannya, Pertunjukan lenong diiringi oleh gambang kromong, maka gambang kromong disebut sebagai orkes pengiring. Gambang kromong banyak dipengaruhi oleh unsur alat musik Cina. Alat musik itu antara lain : tehyan, kongahyan dan sukong. Selebihnya alat musik kempor, ningnong dan kecrek. Kuatnya unsure cina ini, karena dahulu orkes gambang kromong dibina dan dikembangkan oleh masyarakat keturunan cina.

E.     Lakon
Dalam lakon lenong, skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela.

F.     Bahasa yang digunakan 
Dalam pementasannya, Lenong Betawi biasanya menggunakan bahasa melayu atau yang sekarang sering disebut bahasa Indonesia tetapi menggunakan dialek khas betawi.

G.    Teknik Pementasan Teater Lenong Daerah Betawi
Teater Lenong Betawi terbagi atas 4 bagian. Tapi yang akan Penulis bahas dalam bagian ini adalah Teknis Pementasan Dalam Teater Lenong Betawi. Yang Penulis bahas adalah :
1.      Penyutradaraan
Sutradara adalah orang yang akan bertanggung jawab terhadap lakon yang dipentaskan baik itu berupa pemilihan cerita atau mengatur babak yang akan ditampilkan berdasarkan waktu dan jumlah pemain yang tersedia. Peran Sutradara biasanya diangkat oleh pemimpin dan pemilik perkumpulan yang bebas menentukan lakon yang akan dipentaskan. Biasanya cerita dalam pertunjukan teater lenong tidak ditentukan oleh si empunya hajat seperti halnya pada pertunjukan wayang kulit. Meskipun pemimpin perkumpulan biasanya juga merangkap sebagai Sutradara yang menentukan jalannya pertunjukan, tetapi tidak semua pertunjukan teater lenong mempunyai kebiasaan penyutradaan seperti yang telah disebutkan. Misalnya yang terjadi pada Perkumpulan Teater Lenong Setia Kawan boleh dikatakan bahwa seluruh anggota perkumpulan itu dapat merangkap peran sebagai Sutradara.
2.      Struktur Pertunjukan
Bagian ini akan membicarakan tentang struktur pertunjukan yang membangun suatu cerita. Struktur pertunjukan itu sendiri merupakan bagian-bagian pertunjukan saling terikat yang dapat dibagi kedalam 3 bagian pokok yaitu :
a.       Pembukaan
Suatu Pertunjukan Teater Lenong Betawi dibuka denga lagu-lagu instrumentalia, gambang kromong pada pembukaan ini berfungsi sebagai pemberitahuan bahwa di sana ada Pertunjukan Teater Lenong. Selain berfungsi sebagai undangan bagi masyarakat sekitar yang tidak menerima undangan resmi si empunya hajat, dan juga merupakan pemberitahuan bagi para pedagang. Undangan yang disebarkan melalui gema musik gambang kromong ini bertujuan supaya lebih banyak orang yang datang menonton pertunjukan atau lebih banyak pedagang yang datang, karena biasanya mereka akan menambah semarak suasana pertunjukan.
Teater lenong mengisi pembukaan dengan lagu-lagu instrumentalia gambang kromong, tetapi kwantitas gambang kromong yang diperdengarkan berbeda dari satu perkumpulan lagu-lagu instrumentalia gambang kromong merupakan sebagai tanda dimulainya pertunjukan teater lenong, mulai diperdengarkan kira-kira pukul 20.15. Irama gambang kromong yang biasanya dipertunjukkan adalah khong gi lok.
b.      Hiburan
Setelah lagu-lagu instrumentalia gambang kromong melanjutkan pertunjukan dengan satu acara yang mereka namakan hiburan. Hiburan yang mengisi acara di antara pembukaan, dan cerita, merupakan pertunjukan nyanyi, dan penyanyi yang penyanyinya menyanyikan lagu-lagu berirama, orkes, dan disertai dengan joget. Acara hiburan yang dimulai kira-kira pada pukul 21.30. Pada acara ini penonton menuliskan nama lagu (lagu orkes) dalam selembar kertas yang diisi uang ala kadarnya. Untuk dikirimkan pada seseorang disertai dengan berbagai ucapan
c.       Cerita
Cerita dalam pertunjukan teater lenong baru dimulai pada pukul sepuluh malam dan akan mengakhiri pertunjukan beberapa menit sebelum saat Sholat Subuh tiba. Dan ada juga yang mengakhiri pertunjukan pada pukul 03.00 dini hari.
Seperti yang telah dibicarakan sebelumnya cerita yang akan dipentaskan ditentukan oleh Sutradara, yang akan membagi cerita itu ke dalam beberapa babak. Banyaknya babak tergantung dari luasnya cerita. Babak terbagi ke dalam tiga bagian pokok, yaitu babak pertama, kedua, dan ketiga.
·         Babak Pertama
merupakan pendahuluan yang akan mengantarkan cerita. Dalam hal ini ditampilkan tokoh-tokoh utama yang memegang peranan penting dalam cerita
·         Babak Kedua
merupakan pertemuan dari paling sedikitnya kelompok yang bermasalah dan persoalan yang ada dalam cerita juga mulai tampak jelas.
·         Babak Ketiga
merupakan pemecahan masalah

3.      Tipe dan Sifat Cerita
Cerita yang dipentaskan dalam pertunjukan teater lenong bersifat melodrama yang dijalankan dengan unsur komedi. Sifat komedi pertunjukan ini justru kelihatan menonjol inti cerita. Adalah pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Diakhir cerita, pihak jahat tampak mengalami kekalahan, sedangkan pihak baik sebelum menemukan kebahagiaan terlebih dahulu harus berhasil mengatasi kesengsaraan.
Menurut pengamatan, banyak dari pertunjukan teater lenong yang berkahir tanpa menyelesaikan jalan cerita, karena waktu. Waktu pertunjukan banyak disita oleh selingan. Cerita-cerita teater lenong dapat dibedakan ke dalam dua tipe yaitu :
a.       Cerita Riwayat
Merupakan suatu tipe cerita yang biasanya berkisar tentang kehidupan pahlawan-pahlawan setempat atau kejahatan yang pernah timbul di daerah mereka dan tetap tinggal dalam ingatan.
b.      Cerita Karangan
Timbul dari hasil pikiran para seniman teater lenong, terutama Sutradaranya. Ide cerita dari tipe ini mereka ambil dengan mengundur dari komik, film, dan pertunjukan-pertunjukan lenong yang diselenggarakan oleh perkumpulan-perkumpulan lain.
































BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Lenong adalah kesenian teater tradisional atau sandiwara rakyat Betawi yang dibawakan dalam dialek Betawi yang berasal dari Jakarta, Indonesia.
2.      Teater Lenong Betawi merupakan kesenian budaya Indonesia yang cukup digemari masyarakat.
3.      Teknik-teknik pementasan dalam teater Lenong Betawi yaitu penyutradaraan sebagai orang yang bertanggung jawab pada lakon yang dipentaskan, struktur pertunjukan sebagai bagian-bagian yang terikat yaitu ; Pembukaan, Hiburan dan cerita. Selain itu juga terdapat teknis tipe dan sifat cerita sebagai cerita yang akan dipentaskan pada pertunjukan.
4.      Teater lenong juga termasuk pertunjukan rakyat dari beberapa dasawarsa lalu yang diwariskan oleh orang Betawi.

B.     Saran
1.      Hendaknya Teater Lenong Betawi tidak dilupakan dan terus dilestarikan oleh generasi muda.
2.      Pemerintah harus mempromosikan Teater Lenong Betawi ke seluruh Indonesia.
3.      Menghimbau kepada generasi muda untuk menjaga nama baik kesenian Indonesia.














Rabu, 02 November 2016

MAKALAH TEATER RAMBAI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Randai adalah salah satu permainan tradisional di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambil menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara berganti-gantian. Randai menggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu.
Randai dipimpin oleh satu orang yang biasa disebut tukang goreh, yang mana selain ikut serta bergerak dalam lingkaran legaran ia juga memiliki tugas yang sangat penting lainya yaitu mengeluarkan teriakan khas misalnya hep tah tih untuk menentuak cepat atau lambatnya tempo gerakan dalam tiap gerakan. Tujuannya agar Randai yang dimainkan terlihat rempak dan menarik serta indah dimata penonton Randai tersebut. Biasanya dalam satu group Randai memiliki tukang goreh lebih dari satu, yang tujuannya untuk mengantisipasi jika tukang goreh utama kelelahan atau kemungkinan buruk lainnya, karena untuk menuntaskan satu cerita Randai saja bisa menghabiskan 1 hingga 5 jam bahkan lebih.
Cerita randai biasanya diambil dari kenyataan hidup yang ada di tengah masyarakat. Fungsi Randai sendiri adalah sebagai seni pertunjukan hiburan yang didalamnya juga disampaikan pesan dan nasihat. Semua gerakan randai dituntun oleh aba-aba salah seorang di antaranya, yang disebut dengan janang
Randai dalam sejarah Minangkabau memiliki sejarah yang lumayan panjang. Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan, Tanah Datar ketika mesyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut. Randai dalam masyarakat Minangkabau adalah suatu kesenian yang dimainkan oleh beberapa orang dalam artian berkelompok atau beregu, di mana dalam Randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Randai ini bertujuan untuk menghibur masyarakat yang biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri.
Pada awalnya Randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. Namun dalam perkembangannya, Randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara, seperti kelompok Dardanela.
Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlansungnya acara tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A.        Pengertian dan Unsur Seni Dalam Randai di Minangkabau
Randai adalah kesenian khas Minangkabau yang dilaksanakan dalam bentuk teater arena (pertunjukkan arena).
Unsur kesenian yang terdapat dalam randai yaitu :
·         Seni drama
·         Seni suara
·         Seni tari
·         Seni musik
Sumber cerita dalam randai adalah Kaba yang bertemakan Budi, Malu, Susila, Pendidikan dan menanamkan kesadaran berbangsa. Jadi randai merupakan seni yang kompleks.
Randai disebut kesenian khas Minangkabau. Pernyataan ini memang tepat oleh karena hanya di Minangkabau saja yang memiliki kesenian ini, di daerah lain tidak ada dan tidak dikenal kesenian randai. Jadi, randai disebut kesenian khas Minangkabau, karena hanya Minangkabau yang memilikinya.

Pengertian dan Unsur Seni Dalam Randai di Minangkabau

B.         Unsur-Unsur Randai
Didalam pertunjukkan randai terdapat beberapa unsur :
1.            Unsur tari, yang berfungsi sebagai pelengkap nyanyian yang didendangkan gerak-geriknya selaras dengan alunan bunyi dan gerak tarinya diambil dari gerakan silat
2.            Unsur dendang, dinyanyikan dalam beberapa adegan untuk menyambung cerita yang terpotong. Dendang berfungsi sebagai pengatur cerita dan untuk menyambung cerita yang terpotong (terdiri dari lima legaran. Sesudah lima legaran, dendang masuk kegiatan yaitu :
1)            Untuk persembahan.
2)            Mengatur adegan
3)            Penyampaian cerita
4)            Pembentuk cerita
5)            Penutup cerita
3.            Unsur seni suara, dibawakan dalam setiap adegan dalam randai, dimainkan dengan beberapa orang lakon yaitu 12 s/d 20 orang.
4.            Unsur sastral : berupa cerita yang dibawakan dalam randai, bersumber dari kaba atau cerita rakyat Minangkabau, disampaikan dalam bahasa Minangkabau.
5.            Unsur kerawitan: yang melengkapi permainan randai, alat musik yang sering digunakan adalah :
a.              Saluang
b.              Talempong
c.              Pupuik batang padi

C.        Ciri-Ciri Randai
Kesenian randai merupakan kesenian rakyat Minangkabau. Kesenian ini bentuknya merupakan teater tradisional dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.            Cerita yang dimainkan dalam randai adalah cerita yang populer dan dikenal dalam masyarakat, terutama yang bersumber dari kaba (diceritakan oleh publik yang didendangkan oleh tukang kaba).
2.            Pertunjukkan dilakukan bukan hanya dengan percakapan (dialog) tetapi juga dengan nyanyian (dendang) dan tari.
3.            Nilai dramatik dilakukan spontan dan dapat menjadi satu dalam adegan yang sama antara sedih dan gembira, antara menangis dan tertawa.
4.            Selalu ada adegan atau “moment” yang melahirkan suasana komik.
5.            Menggunakan musik kerawitan sebagai musik pelengkap atau pengiring.
6.            Penonton menjadi satu dan intim dengan pemain.
7.            Pementasan dilakukan di tempat terbuka atau arena.
8.            Lamanya pertunjukkan tidak terbatas tergantung keinginan penyelenggara. Dengn kata lain randai dapat dianggap sebagai seni pertunjukkan di Minangkabau dengan menampilkan cerita yang umumnya bersumber dari Kaba.

D.        Gerak Tari Dalam Randai
Gerakan tari dalam randai umumnya berupa gerakan dasar pencak silat.
Sebelum pertunjukkan dimulai biasanya dibunyikan peralatan musik. Gunanya adalah untuk memanggil orang atau tanda bahwa pertunjukkan akan dimulai.
Seorang berdiri di arena, berarti randai telah dimulai. Orang ini disebut Janang.
Janang berfungsi sebagai pembantu tarian dalam randai. Apabila janang mengucapkan kata “Hepta”, maka semua pemain masuk ke tengah gelanggang permainan.
Pemain membalas empat kali dengan kata “Hepta” dan setelah itu pemain maju ke depan dan balik kebelakang dengan gerakan gelombang. Setelah itu pemain maju ke depan dan balik ke belakang dengan berformasi lingkaran sambil melakukan gerakan pencak dengan langkah maju mundur ke dalam memperkecil lingkaran dan keluar memperbesar lingkaran serta di ulang sebanyak empat kali. Ini merupakan penerapan langkah sambilan, yaitu merupakan bunga dari pada gerakan silat.
E.         Alur Cerita Dalam Randai
Pada mulanya alur cerita dalam randai dilakukan lewat nyanyian, sajak, setelah selesai menyanyikan sebuah adegan cerita lalu mereka duduk jengkang dalam lingkaran, lalu terdengar suara gurindam bersahut-sahutan. Gurindam dalam randai adalah merupakan persembahan sebagai salam dan bahwa randai di mulai.
Pemain berdiri dalam posisi pitanggo serong (sikap pasang kuda-kuda). Setelah lingkaran terbentuk, maka adegan randai siap dimainkan. Para pemain menari di sekeliling lingkaran sambil bernyanyi dan bertepuk ke tengah lingkaran serta memukul pisak kaki celana dengan kuat.
F.         Dialog Dalam Randai
Dialog dalam randai dilakukan dalam bahasa Minangkabau, biasanya memakai prosa, liris dalam bentuk pantun yang kadang-kadang mengandung kiasan, misalnya dialog antara anak dengan ibunya.
Kehidupan budaya masyarakat Minangkabau, dapat tercermin dari pertunjukkan randai, baik dialog yang diucapkan yang penuh dengan pantun dan syair serta prosa liris yang berupa untaian bait yang masing-masing bait umumnya terdiri dari empat baris, dua baris berisi sampiran, sedangkan dua lainnya berisi maksud yang sebenarnya. Dalam pertunjukkan randai hal itu meskipun tidak terlalu ketat namun masih terasa bahwa mereka menyadari perlunya bait-bait tersebut untuk menjaga irama-irama pertunjukkan agar sesuai dengan gurindam dan dendang yang ada.
Karena sifatnya yang liris, yang teringat dengan jumlah suku kata dan adanya sajak, syair, pantun, maka kaba selalu didendangkan. Didalam randai bagian-bagian cerita yang didendangkan inilah yang disebut gurindam. Gurindam dan tari yang bersumber dari gerak silat inilah yang menjadi ciri khas randai sebagai Teater Tradisi Minang.
Cerita yang dimainkan umumnya dari kaba yang ada, yang merupakan bentuk sastra lisan di Minangkabau yang terkenal. Kaba-kaba yang populer umumnya cerita yang dihidangkan sudah dikenal oleh masyarakatnya, bahkan grup randai sering memakai nama cerita, misalnya Grup Randai Magek Manadin, Grup Randai Anggun nan Tongga, Grup Randai Rambun Pamenan, dan Grup Randai Gadih Rantin. Padahal semua itu adalah cerita-cerita yang populer dan digemari oleh rakyat Minang. Cerita Rakyat, dongeng, legenda, dan lain sebagainya.

G.        Sejarah dan Perkembangan Randai Pada Masa Sekarang
Randai dalam sejarah Minangkabau memiliki sejarah yang lumayan panjang. Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut. Randai dalam masyarakat Minangkabau alah suatu kesenian yang dimainkan oleh beberapa orang dalam artian berkelompok atau beregu, dimana dalam randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Randai ini bertujuan untuk menghibur masyarakat biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri.
Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlangsungnya acara tersebut.
Sekarang randai ini merupakan sesuatu yang asing bagi pemuda-pemudi Minangkabau, hal ini dikarenakan bergesernya orientasi atau kegemaran dari generasi tersebut. Randai terdapat di Pasisir dan daerah Darek (daratan).
Pada awalnya randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. Namun dalam perkembangannya randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara, seperti kelompok Dardanela. Jadi, randai awalnya adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, dan kurang tepat jika randai disebut sebagai Teater tradisi Minangkabau walaupun dalam perkembangannya randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara.







BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Randai adalah kesenian khas Minangkabau yang dilaksanakan dalam bentuk teater arena (pertunjukkan arena).
2.      Unsur kesenian yang terdapat dalam randai yaitu :
·         Seni drama
·         Seni suara
·         Seni tari
·         Seni musik
3.      Ciri-ciri Randai
·         Cerita yang dimainkan dalam randai adalah cerita yang populer dan dikenal dalam masyarakat, terutama yang bersumber dari kaba (diceritakan oleh publik yang didendangkan oleh tukang kaba).
·         Pertunjukkan dilakukan bukan hanya dengan percakapan (dialog) tetapi juga dengan nyanyian (dendang) dan tari.
·         Nilai dramatik dilakukan spontan dan dapat menjadi satu dalam adegan yang sama antara sedih dan gembira, antara menangis dan tertawa.
·         Selalu ada adegan atau “moment” yang melahirkan suasana komik.
·         Menggunakan musik kerawitan sebagai musik pelengkap atau pengiring.
·         Penonton menjadi satu dan intim dengan pemain.
·         Pementasan dilakukan di tempat terbuka atau arena.
·         Lamanya pertunjukkan tidak terbatas tergantung keinginan penyelenggara. Dengn kata lain randai dapat dianggap sebagai seni pertunjukkan di Minangkabau dengan menampilkan cerita yang umumnya bersumber dari Kaba.

B.     SARAN
Dengan adanya makalah ini kelompok harapkan akan menambah wawasan kita kita tentang teater tradisiional rambai yang ada di Minang Kabau Sumatra Barat.







MAKALAH LONGSER

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Longser merupakan salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Priangan, khususnya di daerah Bandung. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa sekitar tahun 1915 di Bandung terdapat sebuah pertunjukan rakyat yang disebut doger. Dalam perkembangannya doger berubah menjadi lengger kemudian berubah lagi menjadi longser. Longser cukup berjaya sekitar tahun 1920-1960-an. Pengertian dari longser belum ditemukan secara pasti apa artinya. Akan tetapi beberapa keterangan mengaitkan pengertian itu dalam kirata basa. Di dalam bahasa Sunda, ada yang dinamakan kirata basa (akronim) kependekan dari dikira-kira tapi nyata. Long dari kata melongyang artinya memandang dan berartinya ada sesuatu rasa, hasrat, atau gairah seksual. Namun tampaknya pengertian itu hanya dikarang-karang saja karena belum tentu kebenarannya, terlihat seperti terlalu dipaksakan.
Bentuk pertunjukan longser adalah teater rakyat yang di dalamnya terdapat unsur tari, nyanyi, lakon yang di dalamnya sarat dengan lelucon. Biasanya dipertunjukan pada malam hari di tempat terbuka dengan menggelar tikar. Secara otomatis penonton pun membuat setengah lingkaran seperti tapal kuda. Di tengah-tengah arena biasanya diletakkan oncor bersumbu tiga atau lima sebagai alat penerangan. Gamelan diletakkan di belakang yang sekaligus juga sebagai tempat berganti pakaian oleh anggota rombongan. Walaupun umumnya pertunjukan malam hari, namun kadangkala dipertunjukan pula siang hari dengan istilah lain yaitu lontang. Longser biasanya dipertunjukan dengan cara mengamen, walaupun sekali-kali ada yang nanggap. Waditra (alat musik) yang digunakan dalam
pertunjukan Longser adalah ketuk, kendang, dua buah saron, kempyang, kempul, goong, kecrek, dan rebab. Dalam perkembangannya waditra yang digunakan semakin lengkap yaitu ditambah dengan terompet, bonang, rincik, gambang, dan jenglong. Yang berlaras salendro.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teater  Longser
Longser adalah salah satu jenis teater rakyat tatar Sunda yang hidup di daerah Priangan Jawa Barat. 
Sebagai teater rakyat, Longser dipentaskan di tengah-tengah penonton. Bahkan, pada awal perkembangannya, Longser hampir tidak pernah dipentaskan di sebuah panggung yang ditata sedemikan rupa. Di mana terdapat penonton, di sana Longser digelar; apakah tempat ini alun-alun, terminal, stasiun, atau bahkan di pinggir jalan.
Menelusuri sejarah Longser, tidak akan terlepas dari nama Bang Tilil (nama aslinya Akil), yang dikenal sebagai tokoh Longser. Dalam kurun waktu 1920-1960, Longser Bang Tilil mencapai puncak kejayaannya.Selain Longser Bang Tilil, salah satu kelompok Longser yang cukup terkenal adalah Longser Pancawarna yang dipimpin oleh Ateng Japar (pernah berguru kepada Bang Tilil). Pancawarna didirikan tahun 1939, dan masih eksis sampai sekarang walaupun produktifitasnya menurun.
Sebuah pergelaran Longser biasanya dilengkapi oleh nayaga (penabuh musik), pemain, bodor (pelawak), dan ronggeng (penari merangkap penyanyi) yang berfungsi daya tarik tersendiri bagi penonton. 
Struktur Longser biasanya terdiri dari
·         Tatalu dengan lagu Gonjing sebagai bewara bahwa pertunjukan Longser dimulai.
·         Kidung sebagai bubuka yang dianggap memiliki kekuatan magis untuk upaya pertunjukan lancar juga disisi lain kidung dipakai lagu persembahan pada
·         arwah nenek moyang kidung biasanya dinyanyikan oleh ronggeng yang perkembangannya dinyanyikan oleh Sinden.
·         Munculnya penari-penari yang diawali dgn wawayangan ( tarian perkenalan para ronggeng dengan memperkenalkan para penari dgn julukan seperti si Oray, Si Asoy,si Geboy. Goyang pinggul diistilahkan dengan eplok cendol, tari yg dibawakan adalah ketuk tilu / Cikeruhan)
·         Penampilan bobodoran dengan musik dan tarian biasanya bodor menirukan tarian ronggeng / kata-kata sehingga penonton tertawa
·         Puncak pertunjukan Longser memainkan sebuah lakon yang diambil dari kehidupan seharian seperti perkawinan, pertengkaran, perceraian.
Musik longser terdiri dari Kendang, Bonang, rebab, Rincik, Gambang, Saron I dan saron II, Kecrek, Jengklong, Goong, dan Ketuk yang kesemuanya berlaras Salendro.
Busana yang dipakai sederhana tapi mencolok dari segi warnanya terutama busana yang dipakai oleh ronggeng biasanya memakai kebaya dan samping batik, untuk lelaki memakai baju kampret dengan celana sontog dan ikat kepala . Dalam perkembangannya Longser dikemas menjadi bentuk Longser moderen dengan memakai naskah dan tidak menggunakan setting oncor / memakai pengiring karawitan tetapi lebih kepada perkembangan konsepnya yang diambil dengan garapan baru.
Longser merupakan salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Priangan, khususnya di daerah Bandung. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa sekitar tahun 1915 di Bandung terdapat sebuah pertunjukan rakyat yang disebut doger. Dalam perkembangannya doger berubah menjadi lengger kemudian berubah lagi menjadi longser. Longser cukup berjaya sekitar tahun 1920-1960-an. Pengertian dari longser belum ditemukan secara pasti apa artinya. Akan tetapi beberapa keterangan mengaitkan pengertian itu dalam kirata basa. Di dalam bahasa Sunda, ada yang dinamakan kirata basa (akronim) kependekan dari dikira-kira tapi nyata. Long dari kata melongyang artinya memandang dan berartinya ada sesuatu rasa, hasrat, atau gairah seksual. Namun tampaknya pengertian itu hanya dikarang-karang saja karena belum tentu kebenarannya, terlihat seperti terlalu dipaksakan.
Bentuk pertunjukan longser adalah teater rakyat yang di dalamnya terdapat unsur tari, nyanyi, lakon yang di dalamnya sarat dengan lelucon. Biasanya dipertunjukan pada malam hari di tempat terbuka dengan menggelar tikar. Secara otomatis penonton pun membuat setengah lingkaran seperti tapal kuda. Di tengah-tengah arena biasanya diletakkan oncor bersumbu tiga atau lima sebagai alat penerangan. Gamelan diletakkan di belakang yang sekaligus juga sebagai tempat berganti pakaian oleh anggota rombongan. Walaupun umumnya pertunjukan malam hari, namun kadangkala dipertunjukan pula siang hari dengan istilah lain yaitu lontang. Longser biasanya dipertunjukan dengan cara mengamen, walaupun sekali-kali ada yang nanggap. Waditra (alat musik) yang digunakan dalam pertunjukan Longser adalah ketuk, kendang, dua buah saron, kempyang, kempul, goong, kecrek, dan rebab. Dalam perkembangannya waditra yang digunakan semakin lengkap yaitu ditambah dengan terompet, bonang, rincik, gambang, dan jenglong. Yang berlaras salendro.
Dalam pertunjukan longser ada anggota perempuan yang disebut ronggeng. Salah seorang di antaranya ada yang disebut Sripanggung. Ia merupakan bintang atau primadona dari para ronggeng. Para ronggeng menggunakan kain dan kebaya, juga menggunakan karembong(selendang). Hiasan kepala bersanggul dihiasi dengan mangle (bunga melati/sedap malam yang dironce). Asessoris yang dipakai adalah subang (hiasan telinga), kalung, gelang, cincin, juga bros. Mereka berias tebal (menor). Para ronggeng biasanya diberi julukan dengan nama ikan seperti Si Jeler, Si Tawes, Si Sepat, Si Kumpay, dan lain-lain. Para pemain laki-laki menggunakan pakaian jawara, yaitu menggunakan kampret, kain sarung, dengan ikat barangbang seplak, lengkap dengan golok yang diselipkan pada sabuk kulit yang lebar, juga menggunakan gelang bahar dan cincin batu yang besar-besar.
Pertunjukan Longser dimulai dengan masuknya para ronggeng yang disebut dengan adegan wawayangan atau mamarung yaitu para ronggeng menyanyi sambil menari.

Hal ini sebagai salah satu cara yang dilakukan untuk menarik hati penonton. Apabila ada laki-laki yang tertarik pada salah satu ronggeng, biasanya akan memakaikan apa saja yang dimilikinya kepada ronggeng. Misalnya: sarung, kopiah, jam tangan, kaca mata, sapu tangan, dan lain-lain. Bila selesai menari, barang-barang tersebut dikembalikan kepada yang mempunyai barang tersebut dengan tebusan uang. Setelah itu, datang bodor untuk mengucapkan terima kasih kepada para penonton atas partisipasinya. Orang yang jadi bodor biasanya adalah pemimpin rombongan. Sambil melawak, ia memperkenalkan rombongan juga Sripanggung serta para ronggeng kepada para penonton.
Selanjutnya, Jawara dan Sripanggung menari berpasangan kemudian diikuti  leh ronggeng yang lain berpasangan dengan para penonton yang menaksirnya.  Penonton juga diperbolehkan meminta lagu kesenangannya, dengan imbalan memberi uang. Lagu-lagu yang diminta seperti Awi Ngarambat, Geboy, Berenuk Mundur, dan lagu-lagu Ketuk Tilu yang lain. Tidak jauh berbeda dengan sajian Ketuk Tilu. Pada acara ini kadang-kadang terjadi rebutan ronggeng sampai berkelahi. Maka apabila terjadi perkelahian, pimpinan rombongan berkewajiban untuk melerainya, oleh sebab itu pimpinan rombongan harus memiliki kemampuan penca. Adegan selanjutnya adalah menyajikan lakonan. Lakon-lakon yang sering ditampilkan biasanya diangkat dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Di antaranya adalah Suganda-Sugandi, Si Keletek jeung Si Kulutuk. Karnadi Anemer Bangkong, Rasiah Geulang Rantai, Pahatu Lalis, Kelong, dan lain-lain.
Tokoh yang cukup populer dalam kaitannya dengan proses pertumbuhan dan perkembangan longser di Bandung adalah Bang Tilil. Nama ini merupakan julukan atau nama beken dari seorang seniman longser yang bernama Akil. Biasanya nama julukan bagi seniman-seniman rakyat masa itu mengalahkan popularitas nama aslinya. Nama julukan para seniman dalam pertunjukan rakyat tersebut biasanya berkaitan erat dengan kekhasan yang dimiliki oleh seniman tersebut. Tilil itu sendiri adalah nama burung kecil yang terdapat di daerah-daerahkan rawa. Bang Tilil ini memiliki suara yang melengking (nyaring) seperti burung tilil.
Antara tahun 1920-an hingga tahun 1960-an Longser Bang Tilil terus mengalami perkembangan hingga mencapai masa puncaknya. Di samping itu, muncul pula kelompok-kelompok lain seperti Bang Soang, Bang Timbel, Bang Cineur berasal (Cimahi). Bang Kayu (Batu Karut), Bang Auf (Kamasan, Sumanta (Cikuda). Tahun 1939 terbentuk grup Longser Pancawarna yang dipimpin oleh Ateng Japar. Ateng Japar pada awalnya bersatu dengan Bang Tilil tetapi kemudian memisahkan diri dengan membentuk grup baru. Kedua grup ini kemudian membuat komitmen untuk membagi wilayah pertunjukan. Bang Tilil menguasai daerah Kota Bandung sedangkan Ateng Japar menguasai daerah di luar Kota Bandung. Kini kelompok-kelompok longser sudah jarang ditampilkan. Namun demikian sekitar tahun 1990-an muncul longser yang dikemas menjadi seni pertunjukan oleh mahasiswa teater STSI Bandung. Terbentuklah kelompok LAP (Longser Antar Pulau).
B.     Asal Muasal Seni Longser
Banjaran (PBS) - Longser adalah salahsatu jenis teater rakyat tatar Sunda yang berkembang di daerah Priangan, tepatnya di Ranca Manyar, Kecamatan Pamengpeuk, Kab.Bandung. Tokoh yang dikenal pada jamannya ialah Ateng Japar, yang dari kecil sudah menggarap Longser. Setelah generasi Bang Tilil, Bang Tawes.
Longser mengalami puncak kejayaan dalam kurun waktu 1920-1960 yang dikenal ialah Longser Bang Tilil,tumbuh kelompok-kelompok Longser seperti Bang Soang,Bang Timbel,Bang Cineur (dari Ciamis). Menurut Kirata Longser Long ( melong) dan ser ( rasa / gairah seksual ) . Kelompok terkenal asal daerah kab Bandung adalah kelompok ateng Japar dengan Pancawarnanya menguasai daerah Kab. Bandung seperti daerah Pangalengan , Banjaran , Soreang, dan lainnya.
C.    Sruktur Longser
Sruktur Longser biasanya terdiri dari : 
1.      Tatalu dengan lagu Gonjing sebagai bewara bahwa pertunjukan Longser
2.      Kidung sebagai bubuka yang dianggap memiliki kekuatan magis untuk upaya pertunjukan lancar juga disisi lain kidung dipakai lagu persembahan pada arwah nenek moyang kidung biasanya dinyanyikan oleh ronggeng yang perkembangannya dinyanyikan oleh Sinden.
3.      Munculnya penari-penari yang diawali dengan wawayangan ( tarian perkenalan para ronggeng dengan memperkenalkan para penari dengan julukan seperti si Batresi Oray, Si Asoy,si Geboy. goyang pinggul diistilahkan dengan eplok cendol , tari yg dibawakan adalah ketuk tilu / Cikeruhan
4.      Penampilan bobodoran dengan musik dan tarian biasanya bodor menirukan tarian ronggeng / kata-kata sehingga penonton tertawa
5.      Pertunjukan Longser memainkan sebuah lakon yang diambil dari  kehidupan seharian seperti perkawinan, pertengkaran, perceraian . Setiap cerita dibawakan dengan penuh canda, atau banyolan khas lokal.

D.    Musik Longser
Musik Longser sebelum berkembang terdiri dari :
1.      kendang
2.      terompet
3.      rebab
4.      saron
5.      goong
6.      kecrek
Perkembangan selanjutnya menjadi lengkap :
1.      kendang
2.      bonang
3.      rebab
4.      rincik
5.      gambang
6.      saron 1 saron 2
7.      kecrek
8.      jengklong
9.      goong
10.  ketuk
11.  kesemuanya berlaras Salendro

Busana yang dipakai sederhana tapi mencolok dari segi warnanya terutama busana yang dipakai oleh ronggeng biasanya memakai kebaya dan samping batik . Untuk lelaki memakai baju kampret dengan celana sontog dan ikat kepala . Dalam perkembangannya Longser dikemas menjadi bentuk Longser moderen dengan memakai naskah dan tidak menggunakan setting oncor / memakai pengiring karawitan tetapi lebih kepada perkembangan konsepnya yang diambil dengan garapan baru.
Di Jawa Barat terdapat beragam kebudayaan Sunda. Menurut Dana Setia yang pernah menjabat Kepala Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat, sedikitnya terdapat 300 jenis kesenian yang pernah hidup di masyarakat. Seiring perkembangan sosial masyarakat Sunda, terutama sejak masuknya beragam budaya lain, kesenian tersebut mulai berguguran, bahkan sudah ada yang hilang sama sekali. Banyak faktor, baik internal maupun eksternal, yang menyebabkan hilangnya kesenian tersebut. Terbukanya kehidupan masyarakat dengan dunia luar yang dicirikan dengan kemajuan dalam bidang transportasi dan komunikasi seperti internet, telah menjadikan dunia tanpa batas budaya. Budaya global yang mampu menggerus kelokalan yang dimiliki setiap etnik, di manapun. Berbagai nilai baru pun merembessampai ke daerah-daerah terpencil. Padahal semua tahu, bahwa tidak semua nilai baru tersebut bersifat positif. Kalaulah masyarakat tidak mempunyai filteryang kuat, maka nilai-nilai baru yang bersifat negatif tersebut tentunya dapat memporakporandakan nilai-nilai lama yang positif dan telah ada. Oleh karena itu apabila disebutkan bahwa pedokumentasian, pengembangan dan pembinaan kesenian, salah satunya bertujuan untuk melestarikan nilai budaya bangsa, maka dalam bentuk yang lain, kesenian dapat dijadikan sebagai alat ketahanan budaya (Deskripsi Kesenian Jawa Barat, Dibudpar & PDP).
Berdasarkan catatan terbaru dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, saat ini terdapat sekitar 34 jenis kesenian yang masih terpelihara dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Di antaranya, terdapat kesenian Longsér, sebuah teater rakyat yang hidup dan berkembang di Bandung.


Selain Longsér, di Jawa Barat pun terdapat beberapa jenis teater tradisional lainnya, seperti Uyeg dari Sukabumi, Ubrug dari Banten, Matres dari Cirebon, Tarling dari Cirebon, Topeng Banjet dari Karawang, dan sebagainya. Tiap-tiap jenis kesenian tersebut mempunyai ciri tersendiri, baik dari cara pementasan maupun peralatan yang digunakan.

Salah satu adegan dalam pertujukan longser. Jika dibandingkan dengan daerah lain, Longsér mempunyai kemiripan dengan Lenong dan Srimulat. Perbedaannya, sampai saat ini Longsér menggunakan bahasa Sunda untuk berkomunikasi dengan penonton. Salah satu ciri khasnya adalah dengan hadirnya Ronggéng, penari merangkap penyanyi yang mampu menarik perhatian penonton. Ronggéng biasa menari dengan iringan lagu-lagu Sunda jenis ketuk tilu.

E.     Longsér dan Perkembangannya
Belum ada catatan yang akurat, sejak kapan sebenarnya Longsér menjadi bagian dari kesenian di Tatar Sunda. Bahkan kata Longsér tidak menpunyai definisi yang jelas. Ada yang menggangap bahwa kata Longsér kependekan dari “long” (melihat, memandang) dan “ser” (kata untuk menunjukkan suatu hasrat atau gairah seksual). Namun anggapan tersebut bukanlah satu-satunya definisi yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya.
Bentuk pergelaran Longsér, seperti halnya Lenong Betawi, dibangun dari beberapa bagian penting yang menjadi ciri khas kesenian tersebut. Sebuah pergelaran Longsér biasanya dilengkapi oleh nayaga (penabuh musik), pemain, bodor (pelawak), dan ronggéng (penari merangkap penyanyi) yang berfungsi daya tarik tersendiri bagi penonton. Pada saat pementasan, para pemain membangun cerita untuk disuguhkan kepada penonton. Pada mulanya, cerita dalam Longsér disusun sesaat sebelum permainan dimulai. Artinya, tanpa skenario yang jelas, sehingga kadang-kadang isi cerita menjadi kurang fokus dan lebih cenderung humoristik

Sebagai teater rakyat, Longsér dipentaskan di tengah-tengah penonton. Bahkan, pada awal perkembangannya, Longsér hampir tidak pernah dipentaskan di sebuah panggung yang ditata sedemikan rupa. Di mana terdapat penonton, di sana Longsér digelar; apakah tempat ini alun-alun, terminal, stasiun, atau bahkan di pinggir jalan.
Menelusuri sejarah Longsér, tidak akan terlepas dari nama Bang Tilil (nama aslinya Akil), yang dikenal sebagai tokoh Longsér. Dalam kurun waktu 1920-1960, Longsér Bang Tilil mencapai puncak kejayaannya. Longsér Bang Tilil hadir sebagai media hiburan rakyat yang komunikatif. Ketenaran Longsér Bang Tilil, telah memicu seniman lainnya untuk mendirikan grup tersendiri; di antaranya Longsér Bang Soang, Bang Timbel, Bang Cineur, Bang Kayu, dan sebagainya. Selain Longsér Bang Tilil, salah satu kelompok Longsér yang cukup terkenal adalah Longsér Pancawarna yang dipimpin oleh Aténg Japar (pernah berguru kepada Bang Tilil). Pancawarna didirikan tahun 1939, dan masih eksis sampai sekarang walaupun produktifitasnya menurun.

Terdapat pembagian wilayah pertunjukan antara Bang Tilil dengan Ateng Japar. Bang Tilil menguasai wilayah pertunjukan kota Bandung (Stasiun, Alun-alun, Tegal Lega, Cicadas, Andir, Cikawao dan wilayah lain di kota Bandung). Sementara Longsér Ateng japar menguasai wilayah luar kota Bandung (Pangalengan, Cililin, Banjaran, Soreang, dan lain-lain). Akibat penjajahan Jepang, banyak seniman Longsér mengungsi. Praktis kegiatan berkesenian mereka surut sejak itu. Baru pada tahun 1952, ketika Ateng Japar kembali ke Bandung dari pengungsiannya di Garut, Longsér kembali mengisi ruang hiburan bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.
Kesulitan kesenian Longsér untuk bertahan pun masih terus dialaminya. Ini disebabkan oleh kebijakan penataan tata ruang kota Bandung, termasuk pemekarannya. Akibatnya, beberapa genre seni pertunjukan rakyat yang pada saat itu menjadi bagian dari masyarakatnya juga mengalami kesulitan untuk hidup. Perlahan-lahan wilayah pertunjukan Longsér Bang Tilil pun menciut dan akhirnya surut. Apalagi setelah Bang Tilil meninggal, punahlah Longsér yang dipimpinnya.
Sementara itu, Longsér Ateng Japar tetap eksis berkeliling di wilayah pertunjukannya, walaupun tidak lagi seperti pada masa kejayaannya dahulu. Dewasa ini, Longsér Ateng japar tidak lagi memiliki wilayah pertunjukan yang pasti. Bahkan dari hari ke hari semakin surut, walaupun belum dapat dikatakan punah sama sekali. Longsér Ateng japar tidak lagi melakukan pertunjukan keliling, dan hanya memenuhi panggilan untuk menumbuhkan apresiasi para mahasiswa kesenian atau untuk hiburan bagi instansi yang menganggap Longsér masih layak dijadikan materi hiburan. Belakangan Longsér Ateng Japar mempreteli keutuhan pertunjukan dan bersedia memenuhi panggilan untuk hajatan. Longser itu hanya memiliki tarian jenis ketuk tilu dan jaipongan, dimainkan di sebuah panggung dengan perlengkapan bodor alakadarnya. Padahal, umumnya Longsér dimainkan di aréna terbuka, menyatu jeung penonton. Memang belakangan ini, Longsér sering dimainkan di sebuah panggung, baik di luar bangunan maupun di dalam gedung kesenian.
Namun menurut Wa Kabul, pemimpin Longsér Ringkang Gumiwang, persoalan tempat tergantung pada kondisi. Sah-sah saja Longsér dimainkan di atas panggung, seperti seni teater lainnya. Awalnya Longsér memiliki waktu pertunjukkan tertentu, yaitu pada malam hari, antara pukul 20.00 sampai dan 22.00. Namun saat ini banyak juga seni Longsér yang dimainkan pada siang hari.








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Longser merupakan salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Priangan, khususnya di daerah Bandung
2.      Longser adalah salah satu jenis teater rakyat tatar Sunda yang hidup di daerah Priangan Jawa Barat. 
3.      Banjaran (PBS) - Longser adalah salahsatu jenis teater rakyat tatar Sunda yang berkembang di daerah Priangan, tepatnya di Ranca Manyar, Kecamatan Pamengpeuk, Kab.Bandung. Tokoh yang dikenal pada jamannya ialah Ateng Japar, yang dari kecil sudah menggarap Longser. Setelah generasi Bang Tilil, Bang Tawes.
4.      Struktur Longser biasanya terdiri dari
·         Tatalu dengan lagu Gonjing sebagai bewara bahwa pertunjukan Longser dimulai.
·         Kidung sebagai bubuka yang dianggap memiliki kekuatan magis untuk upaya pertunjukan lancar juga disisi lain kidung dipakai lagu persembahan pada
·         arwah nenek moyang kidung biasanya dinyanyikan oleh ronggeng yang perkembangannya dinyanyikan oleh Sinden.
·         Munculnya penari-penari yang diawali dgn wawayangan ( tarian perkenalan para ronggeng dengan memperkenalkan para penari dgn julukan seperti si Oray, Si Asoy,si Geboy. Goyang pinggul diistilahkan dengan eplok cendol, tari yg dibawakan adalah ketuk tilu / Cikeruhan)
·         Penampilan bobodoran dengan musik dan tarian biasanya bodor menirukan tarian ronggeng / kata-kata sehingga penonton tertawa
·         Puncak pertunjukan Longser memainkan sebuah lakon yang diambil dari kehidupan seharian seperti perkawinan, pertengkaran, perceraian
B.     Saran
Dengan adanya  makalah ini kelompok harapkan kita bisa lebih mengerti dan memahami tentang Teater Longser




Selasa, 01 November 2016

CARA MENGEMBALIKAN JARINGAN INTERNET DISILANG WINDOWS 7

Mungkin ini adalah masalah yang akan anda hadapi saat terhubung kejaringan internet dengan menggunakan kabel LAN, dimana secara tiba-tiba jaringan internet anda terputus saat browsing atau nonton vidio secara online . gambarnya seperti ini


Hal ini di sebabkan oleh Rendahnya Versi Board yang dipakai pada Komputer yang anda punya. Berdasarkan pengalaman yang telah saya alami hal yang terbaik yang harus anda lakukan adalah dengan menambah Lan Chard di Board yang Anda Pakai. Namun bila anda belum punya cukup uang atau tidak sempat untuk melakukan hak tersebut,  dibawah ini adalah sedikit ilmu yang akan saya bagikan kepada anda yang mungkin mengalami hal seperti yang saya sebutkan diatas, karena disaat anda mengalami hal ini dimana jaringan tiba2 disble disaat saat online dengan mengintal ulang komputerpun jaringan internet dikomputer anda akan tetap terputus atau disable.
berikut cara agar jaringannya kembali terkoneksi dengan catatan setelah dilakukan hal ini jaringan internet anda tidak akan sepenuhnya  lancar, karena dari pengalaman yang saya dapat jaringan akan tetap terputus-putus sebelum anda menambah Lan cardnya.

  1. Klik Start kemudian Kemudian Klik Kanan Computer dan klik properties seperti gambar dibawah ini
  2. Add caption
  3.  Setelah klik Properties akan tampil pilihan seperti ini


3. Tahap Berikutnya pilih Network adapters dan akan tampil seperti gambar dibwah ini



Ada dua kemungkina jaringan Lan anda terputus2 atau hilang, yang pertama dimana keadaan lannya dalam keadaan disable seperti gambar diatas lambang lan nya tanda panah kebawah. Apabila komputer anda mengalami hal ini anda hanya tinggal klik kanan pada drive lan nya dan pilih enable dan yang kedua adalah Driver lannya tidk muncul di netword adapter , apabila hal ini terjadi pada komputer anda hal yang harus dilakukana adalah mengklik pilihan scan hardwer and chenges pada pojok atas sepertiyang ditunjukkan pada  gambar  dibawah ini


4. Dan itu adalah tahap terakir adri mengambilakan lan yang disilang atau hilang yang insyaallah setelah anda melakukan semua itu jaringan anda akan kembali. dan sekali lagi saya katakan hal ini hanya untuk smentara,

Terima kasih, semoga ilmu ini bermanfaat